banner 728x250

Sekilas Tentang Wayang

  • Bagikan
banner 468x60

sekilas tentang wayang

sekilas tentang wayang kulit

Pagelaran pertunjukan seni tradisi wayang kulit sudah tidak asing lagi bagi masyarakat jawa pada umumnya mau di jawa Tengah, jawa Timur ataupun Jogja Karta. Dan siapapun itu yang menjadi dalangnya. Masyarakat tetap akan menontonnya tidak pilih-pilih siapa yang membawakan. Bukan sampai disitu saja tetapi cerita lakon yang sedang diceritakan oleh dalang tetap disimak dan diperhatikan sepanjang berjalannya pagelaran.

banner 336x280

Tentu bagi sebagian orang apalagi anak muda zaman sekarang yakni millenial tidak begitu melirik. Itu adalah hal yang sangat wajar dikarenakan tontonan yang ketinggalan zaman, penuh dengan mistik dan mungkin ceritanya yang rumit untuk difahami. Memang hal-hal tersebut tidaklah salah apabila ada anggapan yang demikian itu dan apa yang ada didalam fikirannya juga tidak salah. Namun jika hal yang seperti itu merayapi semua pemuda di era sekarang, tentu tontonan wayang kulit akan reduk pamornya.

Apalagi ditambah dorasi pagelaran wayang kulit tidak sebentar kalau pertunjukan aslinya. Karena ada juga pagelaran wayang kulit hanya beberapa jam saja bahkan ada yang satu jam disebabkan mengikuti perkembangan zaman. Kalau yang menonton misalnya para pejabat atau orang penting lainnya tentu akan menyita waktu beliau-beliau hanya untuk menonton pertunjukan wayang kulit. Sedangkan masih ada agenda lain.

Oleh dari itu ada penggagas kalau pertunjukan wayang kulit hanya beberapa jam saja tidak seperti biasanya yang semalam penuh dari jam 9 malam sampai jam 4 atau 5 pagi. Memang sesungguhnya dorasi pagelaran wayang, panjang lebih dari empat jam lamanya. Tetapi bagi yang memang sudah suka dan mencintai wayang kulit menonton sampai jam segitu lamanya tentu tidak jadi masalah dan senang-senang saja. Apalagi kalau cerita lakon yang disukainya semangatnya tergambar dari raut wajahnya.

Dan apalagi kalau ketika pas perang-perangan antara wayang satunya dan wayang satunya lagi ramainya penonton suaranya bagaikan tawon yang baru keluar dari sarangnya. Begitu sangat riuh semua pandangan menuju kepada dalang yang sedang memainkan gerak perang wayang. Karena itu merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi pagelaran wayang kulit selain masih ada yang lain menjadi daya pikat untuk menarik penonton seperti sindennya yang cantik-cantik, ada juga yang suka dengan gending-gendingnya atau suka dengan dalangnya kalau memerangkan wayang sangat seruh serta ada juga yang hanya suka dengan suara dalangnya karena merdu untuk didengarkan dan lain-lain.

Sebagai catatan suara merdu dalang adalah Arum. Kalau istilah para pedalangan.

Wayang kulit merupakan tinggalan budaya bersejarah yang dimiliki oleh bangsa ini. Karena wayang kulit tidak hanya ada di jawa saja tetapi juga ada diluar pulau jawa. Seperti wayang Palembang, Bali, Nusatenggara dan masih banyak lagi jenis-jenis wayang dari daerah lain.

Barangkali selama ini sebagian besar masyarakat hanya mengetahui dari jawa saja misalnya jawa Tengah, jawa Timur, Jogja dan jawa Barat.

Dari banyaknya corak keragaman wayang yang ada tentunya juga banyak juga gaya atau kalau di jawa dikenal dengan Gagrak. Bisa diartikan gaya atau model dalam menampilkan cerita wayang itu sendiri. Contohnya seperti gagrak Jogja dan dengan gagrak Solo itu sudah berbeda sekali. Apalagi dengan jawa Timur, Banyumas dan jawa Barat pasti lain tidak sama. Namun demikian tetap itu adalah seni budaya yang harus dilestarikan. Jangan dibeda-bedakan karena itu semua tinggalan kakek dan nenek moyang kita di bumi nusantara.

Didalam wayang banyak sekali karakter-karakter yang ditampilkan dalam satu kali pertunjukan di malam itu. Apalagi kalau kita kupas satu per satu tentu banyak sekali. Seperti Punta Dewa bagaimana karakternya, Duryudana kaya apa karakternya dan semuanya mempunyai karakternya sendiri.

Memang belum diketahui secara pasti asal dari mana wayang itu. Kalau ceritanya dari kitab cerita Mahabarata dan Ramayana. Cerita-cerita tersebut konon kabarnya dari daratan India pada zaman itu. Lalu sampailah didaratan nusantara. Sebenarnya ceritanya tidak harus mengambil dari kitab cerita Mahabarata dan Ramayana tetapi juga bisa diambil dari cerita kerajaan lokal setempat. Tapi karena sudah telanjur kadung kalau di jawa selalu mengambil dari dua kitab cerita diatas. Entah kalau dari daerah lain apakah sama atau mengambil mengembangkan cerita-cerita sejarah lokal. Penulis sendiri pernah mendapatkan informasi bahwa dulu sekitar tahun 60an. Disalah satu sudut desa di Bojonegoro ada dalang yang membeberkan cerita, kerajaan lokal setempat yakni Malwapati. Yang terkenal dengan rajanya Maha Sakti yaitu Prabu Angkleng Dharma.

Namun, itu menurut cerita si mbah yang datang sebagai penonton. Karena penulis sendiri belum lahir pada saat itu.

Mahabarata sendiri menceritakan tentang dua keluarga sepupu yang merebutkan kekuasaan. Mereka saling perang tanding di medan laga namanya Kurusetra. Ditempat itulah mereka saling pukul-meukul segala pasukan yang dipunyainya dikerahkan untuk saling mengalahkan satu dan lainnya. Itu terjadi selama 18 hari memang cukup lama sekali dan korbanpun tidak terhingga. Kalau menurut catatan tulisan kuno pasukan dari Kurawa lebih dari 10 juta, habis tak tersisa.

Perang tersebut namanya adalah Barata Yuda.

Namanya perang harus ada yang kalah dan harus juga ada yang menang. Apabila semuanya sama-sama kuatnya tentu tetap harus ada yang mengalah kalau tidak perang dilanjutkan dan keduanya bisa meninggal bersama. Kalau sudah seprti itu istanapun akan menjadi kosong dan bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk hal-hal tertentu. Itulah perang memang harus seperti itu

Kedua sepupu yang sedang berperang adalah pihak Pandawa dan pihak Kurawa. Dilain kesempatan akan dibahas secara lengkap siapa mereka. Tentu tetap di blog ini dan selalu kunjungi klik simpan untuk mengetahui hal menarik lainnya.

Peperangan akhirnya dimenangkan oleh pihak Pandawa.

Kitab cerita yang kedua adalah Ramayana. Cerita ini menceritakan tentang seorang raja yang sakti dikdaya tetapi angkara murkanya juga luar biasa. Dan menceritakan tentang sepasang suami istri yang terpisah sekian lama dikarenakan si istri diculik oleh raja tadi. Jadi kitab cerita yang kedua ini memgambarkan kesetiaan dan kesucian seorang istri. Tentu apabila ingin mengetahui ceritanya lengkapnya tetap berada di blog tercinta anda ini.

Jadi wayang merupakan seni budaya yang sudah ada sejak dahulu kala terlepas jalan ceritanya dari wilayah mana. Itu sebenarnya bentuk dari kemannunggalan walau berbeda tetapi kalau bisa saling kerjasama dan saling mengisi akan menjadi suatu pertunjukan pentas seni, yang berabat-abat hingga sekarang. Banyak pegemarnya dan tetap eksis.

Wayang kulit yang sering ditonton dari para penggemarnya termasuk penulis sendiri. Katanya wayang kulit sekarang adalah rubahan dari bentuk wayang yang lama. Yang merubahnya adalah tokoh ulama dan termasuk anggota para Wali Allah. Yaitu Sunan Kalijaga atau Raden Sait.

Beliau yang merubah bentuk wayang kulit menjadi sekarang yang sering kita saksikan dilayar kaca ataupun di Youtube.

Alasan tersebut diambil disebabkan biar tidak menyerupai manusia, jadi dibuat seperti sekarang agar ada bedanya.

Meskipun waktu itu Sunan Kalijaga juga sempat berdebat dengan para Wali Allah yang lain. Karena beliau yang lain belum mengetahui bahwa telah di kreasi oleh Sunan Kalijaga bentuknya. Jadi sudah tidak sama lagi. Dari situ ada satu point yang bisa kita ambil hikmahnya bukan soal berubahnya bentuk wayang lama menjadi bentuk baru. Tetapi adalah untuk melakukan sesuatu tidak perlu gembar-gembor terlebih dahulu. Untuk kejeniusan Sunan Kalijaga perlu ditiru. Dengan memanfaatkan budaya lokal yang disukai masyarakat pada saat itu.

Setelah melakukan perdebatan yang sengit diantara para Wali. Akhirnya wayang kulit model baru dipentaskan didepan Masjid Demakbintoro pada waktu itu dan yang menampilkan pertunjukan tersebut adalah Sunan Kalijaga sendiri.

Karena pada waktu itu wayang adalah sebagai sarana alat untuk berdhawah yang dianggap Sunan Kalijaga mudah untuk mendekati kawula alit.

Dari sejak itulah sampai saat ini wayang kulit masih ada saja penggemarnya seperti mati satu tumbuh seribu. Apalagi sekarang banyak perkumpulan atau komunitas masyarakat pencinta wayang ada dimana-mana. Sebagai benteng tontonan tradisi asli dari bangsa ini. Tetapi apabila sekarang sebagai sarana hiburan.

Terlepas dari unsur mistik didalam diri wayang itu tetapi tergantung juga dari sudut mana memandangnya. Kalau bicara soal mistik memang orang tua zaman dulu hampir seluruh kehidupan ini mistik semua. Seperti makan gak boleh bunyi, perawan gak boleh duduk didepan pintu, mahgrib harus ada didalam rumah padahal zaman sekarang terkadang masih dalam antrian kemacetan dan masih banyak lainnya. Apabila itu semua dilanggar akan begitu dan akan begini. Yang terpenting adalah kita harus bisa membedakan karena ilmu pengetahuan juga sudah terbuka untuk siapa saja. Kalau zaman dulu hanya dimiliki oleh orang tertentu yang golongannya cukup bisa dikatakan piyayi.

Oleh dari itu wayang kulit adalah seni budaya yang harus dilestarikan jangan sampai tergerus dengan budaya lain apalagi dari luar nusantara. Mau mengambil cerita dari mana terserah syukur-syukur bisa mengangkat cerita lokal setempat agar masyarakatnya dan untuk generasi masa mendatang, mengetahui jalan cerita dari daerahnya sendiri.

Misalnya ada pertunjukan wayang kulit di Kabupaten Bojonegoro tentu kalau bisa cerita yang mau dicceritakan mengambil sejarah cerita setempat.

Dengan begitu akan lebih baik dan bisa juga ditiru diikuti oleh daerah lainnya. Tetapi apabila ada penanggap yang tidak mau tentu tidak papa membawakan cerita lama lagi saja jangan dipaksa.

Dari itu bagi para-para bapak yang mempunyai anak usia millenial. Jangan ragu apalagi sampai ada rasa takut untuk mengenalkan anaknya kepada seni budaya dalam bentuk pertunjukan wayang kulit. Jangan takut kalau nanti putranya ingin menjadi seoarang dalang tidak perlu kawatir. Provesi dalang juga jangan dipandang sebelah mata. Meskipun hanya duduk saja sembari ngomong-ngomong sendiri tetapi fikirannya harus benar-benar jalan untuk mengingat naskah dan juga harus hafal gending serta harus mengetahui laras dari gemelan. Belum lagi kalau sedang memerangkan wayang itu harus memakai tenaga yang cukup kuat tidak hanya menggerakan saja.

Semoga wayang untuk kedepannya semakin banyak yang mencintai karena para sepuh akan meninggalkan kita semua. Yang tua akan tergantikan oleh yang muda. Jadi semangatnya melestarikan budaya juga harus kita gantikan sebagai yang muda-muda. Dan jangan malu kalau suka dengan wayang apabila ditanya orang. Karena kalau bukan kita lantas siapa lagi yang akan melestarikannya?

Wayang bukan hanya ada disetiap daerah lokal tetapi sudah mendunia. Sebagai warisan budaya yang dimiliki oleh negeri ini. Lalu kewajiban kita adalah merawatnya dan selalu memupuknya agar tumbur subur budaya wayang di Indonesia. Jangan sampai hanya sekedar cerita tutur ke tutur dan sambil membawa gambarnya tanpa tahu bagaimana wujud dari pagelaran wayang itu. Jangan hal yang demikian itu terjadi. Memang tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan terjadi apabila generasi kedepan tidak pernah mau mengenal atau masuk kedalamnya.

Barangkali untuk beberapa tahun kedepan sekitar dua puluh tahun atau lima puluh tahun masih aman. Wayang masih cukup lumayan yang menonton. Tetapi untuk tahun setelahnya apakah masih akan seperti itu tentu harapannya tidak demikian.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: