banner 728x250

Sekilas tentang Pandawa

  • Bagikan
banner 468x60

sekilas tentang pandawa

sekilas tentang pandawa

Baca cerita pandawa memang menyenangkan karena sesungguhnya nama ikatan saudara satu bapak tapi beda ibu. Karena didalamnya hanya ada hubungan saudara sedarah satu ayah dari dua seorang ibu. Diluar itu adalah kerabat yang masih saudara sepupu atau kerabat dekat. Jadi Pandawa sendiri bukan nama suatu kelompok besar ataupun nama organisasi kumpulan. Apabila disebutkan kelompok dari Pandawa berarti itu adalah orang-orang yang mendukung sebagai relawan. Senang dengan budi pekerti serta sikap dari Pandawa sendiri dimana selalu membantu orang kecil dan tidak pernah menonjolkan, kalau dia sebenarnya adalah putra seorang raja Agung dimasa lalu.

banner 336x280

Ayah dari para Pandawa adalah seorang raja Agung dan Berwibawa dimasanya dulu. Terkenal dengan kesaktiannya dan kebijaksanaannya dalam memimpin negara Hastinapura. Hal tersebut dapat dilihat dari cerita ketika raden Pandu Dewa Nata Akan mengikuti sayembara di kerajaan Mandura sebelum ia dinobatkan menjadi raja Hastina. Ohya nama dari ayah para Pandawa adalah Pandu Dewa Nata anak kedua dari ketiga bersaudara. Kakak pertama Pandu Dewa Nata adalah adipati Destarata ayah dari Kurawa. Lalu adik Raden Pandu Dewa Nata yang paling kecil berarti adalah raden Yama Widura. Mereka semua bertiga adalah laki-laki seorang kesatria. Dari putra Sang Raja Abiyasa. Yang dimana nanti akan diturunkan tali tampuk kekuasaan kepada raden Pandu. Ketika Sang Prabu Abi Yasa turun dari Sang Singgasana. Lalu menjadi Maha Resi. Dari mulai detik itu kerajaan Hastinapura dipimpin oleh raden Pandu, hingga akhir hayatnya.

Kebijaksanaan raden Pandu terkenal sejak masih mudanya. Pada waktu itu tersebar sampai kemana-mana berita hot tersebut. Kalau di kerajaan Madura ada sayembara apabila ada yang bisa mengikuti dan keluar sebagai pemenangnya akan dinikahkan oleh putri raja Mandura yaitu Kusuma Dewi Kunti Tali Brata. Siapapun boleh mengikutinya walaupun itu diluar dari kerajaan Mandura dan tidak melihat dari jabatannya apa tetap dibolehkan untuk mengikuti sayembara tersebut.

Waktu itu kerajaan dari mana-mana ikut mendaftarkan putra makotanya supaya mengikuti sayembara dan bisa menjadi pemenangnya, ada juga seorang putra dari Resi juga untuk turut meramaikan acara tersebut syukur-syukur bisa memenangkan sayembara itu.

Raden Pandu sebagai salah satu pangeran, putra raja pasti tidak ketinggalan. Setelah dirasa segala keperluan sudah siap dia berangkat ke kerajaan Mandura. Sesampainya disana langsung mendaftar menyelesaikan administrasi agar kalau misalnya juara bisa diketahui dari mana asal-usulnya biar lebih jelas. Tetapi setelah sampai disana ternyata sayembara telah dimenangkan oleh raden Narasoma putra raja dari kerajaan Mandaraka. Karena raden Pandu datangnya terlambat jadi dia tidak bisa mengikuti sayembara tersebut karena dari itu dia juga sudah ikhlas menerimanya berarti belum menjadi jodohnya.

Tetapi raden Narasoma yang ketika itu sangat menonjol sekali sifat kesombongannya, sifat angkuhnya dan mudah sekali hatinya terbakar marah walaupun tidak ada yang menyenggolnya sengaja membuat gara-gara. Sebab sifatnya yang kurang baik itulah ia menantang raden Pandu untuk berkelahi dan siapa yang menang akan mendapatkan Dewi Kunti, karena raden Narasoma merasa dirinya terhina oleh kedatangannya raden Pandu. Padahal diawal raden Pandu sudah menjelaskan bahwa dirinya telat dan tidak papa, tidak bisa mengikuti sayembara tersebut menerima itu semua dengan hati yang ikhlas. Meskipun demikian raden Narasoma tidak bisa menerimanya dan tidak percaya malah menantang bertarung kalau siapa yang menang itu berhak memboyong Dewi Kunti.

Akhirnya mereka berdua bertarung saling mengeluarkan aji-ajian kesaktian masing-masing. Karena keduanya juga seorang putra raja yang termasyur di zaman itu. Jadi tidak heran apabila putranya mempunyai kesaktian yang linuwih. Setelah bertarung beberapa saat lamanya lalu raden Pandu mengeluarkan ajian yang dimana lawannya bisa dimasukan kedalam tanah, hanya setengah dari badannya. Raden Narasoma setelah separuh dari badannya masuk kedalam tanah lalu tidak bisa apa-apa lagi.

Dari situ raden Narasoma menyesali perbuatannya dan dia minta ampun kepada raden Pandu. Dan apa yang sudah dikatakan sebelum petarungan dimulai bahwa Dewi Kunti akan diberikan kepada dirinya apabila raden Pandu bisa mengalahkan dirinya. Kesempatan itulah dimanfaatkan oleh raden Pandu meminta juga adik dari raden Narasoma yang bernama Dewi Madrim. Tanpa berfikir panjang raden Narasoma memberikan juga adiknya sebagai Putri Boyongan.

Jadi ketika itu raden Pandu memboyong dua putri untuk dibawa kekerajaan Hastinapura. Sebenarnya tidak hanya dua tetapi tiga. Yang satu adalah Dewi Gendari ibu dari Kurawa yang sudah di ceritakan di artikel sebelumnya.

Pada waktu itu Dewi Gendari datang kekerajaan Mandura bersama kakaknya dan adiknya salah satunya Haryo Suman, yang nanti akan menjadi Maha Patih terkenal dengan nama Sengkuni. Ketika itu kakak dari Dewi Gendari tidak terima kalau Dewi Kunti menjadi milik raden Pandu, karena kakak Dewi Gendari sangat-sangat jatuh cinta barangkali kalau zaman sekarang dibilang cinta buta. Nah dari situ kakak Dewi Gendari menantang raden Pandu untuk bertarung kalau dia kalah adik-adiknya menjadi keluarga boyongan dan adiknya Dewi Gendari boleh dinikahi. Tetapi sebaliknya apabila raden Pandu yang kalah maka Dewi Kunti menjadi miliknya.

Setelah semuanya sepakat dengan perjanjian tersebut. Lalu dimulailah pertarungan itu. Setelah sekian lama mereka saling tendang dan memukul akhirnya dimenangkan oleh raden Pandu dan kakak Dewi Gendari meninggal ditempat.

Jadi raden Pandu memboyong tiga putri kekerajaan Hastinapura. Sesampainya di istana raden Pandu langsung menceritakan semuanya kepada ayahnya Prabu Abiyasa dan para sesepuh Hastina yang lain. Sekaligus menyerahkan bagaimana baiknya karena mengingat ada kakak dari raden Pandu yaitu Destarata yang belum menikah. Jadi raden Pandu merasa tidak enak hati kalau dia harus menikah terlebih dahulu sedangkan kakaknya belum. Akhirnya keputusanpun diambil kakaknya disuruh memilih dari ketiga putri cantik-cantik tersebut siapa yang paling disukai. Lalu Destarata memilih Dewi Gendari dan Dewi Kunti bersama Dewi Madrim dinikahi oleh raden Pandu.

Dari kedua putri itulah nanti akan terlahir seorang anak laki-laki yang menjadi kembang tutur di sepanjang zaman. Yang dimana seorang putra-putra itu akan selalu dikenang dengan kelebihannya sendiri-sendiri dan dijadikan model contoh kehidupan bagi sebagian besar orang. Bahkan ada yang dijadikan panutannya.

Dari Dewi Kunti lahirlah tiga orang putra yang pertama diberi nama raden Puntadewa, yang kedua bernama raden Bima Sena putra kedua ini mempunyai kelebihan sendiri karena lahir didalam bungkus. Lalu yang ketiga ini yang terkenal raden Arjuna dimana ketampanannya membuat para wanita tidak sadarkan diri dan disamping itu istri-istrinya juga banyak sekali raden Arjuna ini. Jadi tidak heran apabila raden Arjuna tidak pernah ada di rumah tetapi yang sebenarnya istri aslinya hanya tiga.

Dari Dewi Madrim lahirlah dua orang putra yang pertama diberi nama Pinsen atau nanti ketika dewasa dikenal dengan raden Nakula. Yang kedua diberi nama Pansen atau setelah dewasanya banyak orang yang memanggil raden Sadewa. Raden Nakula dan raden Sadewa mereka berdua adalah kembar. Tetapi Dewi Madrim setelah melahirkan kedua putranya lalu ia meninggal dunia. Pinsen dan Pansen dirawat oleh Dewi Kunti seperti merawat anaknya sendiri tidak dibeda-bedakan dan raden Punta Dewa dan kedua adiknya juga menganggap kalau Pinsen dan Pansen juga adik kandungnya. Jadi mereka berlima benar-benar seperti saudara seibu. Demikian pula dengan Dewi Kunti dalam mengasuh pinsen dan Pansen setulus hati, walaupun itu adalah putra dari madunya. Tetapi Dewi Kunti menghilangkan rasa tersebut.

Bahkan disuatu hari ketika mereka benar-benar sudah keluar dari kemewahan kerajaan Hastinapura menjadi orang yang disingkirkan oleh suatu konspirasi licik. Disalah satu hutan raden Pinsen dan raden Pansen mengeluh kalau dia lapar dan haus. Lalu Dewi kunti Mengutus raden Arjuna untuk mencari minuman dan raden Bima Sena diutus untuk mencari buah-buahan yang ada di hutan itu. Setelah dicari-cari sekian lamanya dua kesatria itu belum juga tampak hadir didepan Dewi Kunti membawa apa yang diinginkan. Karena Dewi Kunti sudah tidak sabar mendengar rintihan pilu dari raden Pinsen dan raden Pansen soalnya mereka berdua masih kecil-kecil belum tahu apa-apa. Kalau ada niat jahat mengusir mereka. dari situlah Dewi Kunti berkata “Kalau misalnya rambutku ini bisa ku jual akan ku jual untuk sesuap makanan dan setetes air untuk minum, untuk putra-putraku ini”.

Dimana yang seharusnya raden Pinsen dan raden Pansen semestinya dirawat oleh uwaknya sendiri yakni raden Narasoma. Yang pada waktu itu sudah menjadi raja di kerajaan Mandaraka yang bergelar Prabu Salya. Karena raden Narasoma atau prabu Salya yang mempunyai kewajiban tersebut mengurusi anak keponakannya itu. Tetapi dikarenakan dia sudah enak di saat itu jadi lupa dan memang wajar apabila orang yang mempunyai sifat kurang baik lalu mendapatkan sesuatu jadi lupa segalanya.

Sehingga Dewi Kuntilah yang merawatnya sejak masih balita hingga dewasa nanti dan putra kandung dari Dewi Kunti juga sangat-sangat menyayangi raden Pinsen dan Pansen. Karena dari itu didalam pandawa dikenal semboyan Mati siji mati kabeh. Mukti siji mukti kabeh. Hal tersebut menandakan kesetiaan rasa saling memiliki satu sama lain disebabkan ketika sedang menderita juga susah bersama. Sehingga lahirlah semboyan yang demikian itu. Memang perlu sekali dicontoh di zaman saat ini.

Jadi raden Pandu Dewa Nanta mempunyai lima orang putra dari dua orang istri. Yang jumlahnya ada lima tetapi beda ibu namun satu ayah. Disebutlah Pandawa lima. Apabila ada yang mempercayai kalau pandawa itu lima orang dengan satu ayah dan satu ibu itu merupakan pembelokan cerita sejarah. Mungkin perkembangan jalan kehidupan yang dimana banyak ditemui cerita-cerita lain dan hal tersebut dianggap benar atau dimodifikasi.

Memang sekilas apabila dilihat sepintas saja hal itu benar kalau pandawa adalah lima orang anak laki-laki dalam satu ayah. Tetapi ada satu hal yang luput dari pengamatan atau memang tidak cermat dalam menelusuri suatu cerita atau entah bagaimana kok bisa, kalau pandawa itu satu ayah dan satu ibu. Kalau satu ayah betul sekali tidak salah seratus persen benar. Tetapi jika diartikan menjadi satu ayah dan satu ibu sepertinya sudah berbeda jalannya.

Tetapi itu merupakan pemahaman setiap orang tentu is ok tidak papa dan tidak masalah. Tapi harusnya lebih cermat lagi dalam memberikan pernyataan tersebut.

Demikian cerita singkat tentang para pandawa dan beberapa catatan kecil itupun bagi yang masih meyaqinni hal yang demikian itu. Tentu tidak ada masalah karena kita berbeda tetapi tetap satu Indonesia. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk merenggangkan tali kerukunan. Karena itu lebih penting dari segalanya. Karena zaman sudah maju tentu pembelajaran atau pengetahuan beredar dimana-mana semakin terbuka. Dari situlah diharapkan ada pencerahan cerita sejarah. Walaupun bisa dikatakan itu viksi untuk sebagian orang. Tetapi venomena itu ada diantara masyarakat. Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa pandawa itu adalah satu ayah dan beda ibu bukan seperti yang selama ini diketahui. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan bisa dijadikan pemikiran untuk pertimbangan.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: