banner 728x250

Pandawa Versus Kurawa

  • Bagikan
banner 468x60

kurawa dan pandawa

kurawa versus pandawa

Pentas pertunjukan perang segera ditampilkan dan tembang kesakitan serta rintihan bisa didengarkan disana-sini. Luka-luka tak terhingga jumlahnya. Kematianpun juga tak dapat dilekan segera datang bila dewi keberuntungan sudah pergi meninggalkannya. Dentingan senjata menjadi instrumen musik pengiring ataupun penghibur bagi yang sedang terluka.

banner 336x280

Memang perang sejak dahulu kala tidak pernah memberikan jawaban, solusi terbaik maupun kesenangan yang hakiki selalu meninggalkan jejak luka yang tak bisa dilupakan. Dari pihak yang menang katanya maupun dari sisi yang kalah. Semuanya saling berjalan meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus sepanjang zaman. Akan tercatat di dalam lebaran memori setiap orang yang mengetahuinya.

Cerita perang akan masuk kedalam kolom sejarah kehidupan kenapa ia bisa terjadi dan jangan sampai terulang kmbali.

Sebagaimana antara Kurawa dan Pandawa yang sudah akan memasuki detik dari perang besar yang tak bisa dihilangkan didalam memori ingatan. Dua pasukan sudah berdiri berhadap-hadapan didepan garis tapal batas sesuai dengan jenis senjatanya yang dipegang masing-masing digenggam erat. Jadi ketika pimpinan meniup peluit menjadi tanda dimulainya perang tanding tersebut merekapun akan segera mangayunkan senjatanya dan melompat memburu mangsanya. Siapa waspada, dia jaya. Tapi siapa lengah, dia pralaya.

Keriuhanpun segera terjadi dan memecahkan sunyinya pagi dan mengusir dari dinginnya angin malam yang belum mau beranjak pergi, tetap masih ingin menyelimuti area kurusetra. Yang dimana menjadi tempat ajang panggung tari-tarian maut, yang dipertunjukan oleh para pasukan perajurit dari kedua belah pihak. Saling hantam, saling serang, saling tangkis dan saling banting menjadi tontonan yang seru.

Para perwira segera tenggelam didalam kesibukan untuk mengatur posisi perajuritnya dan segera membantu apabila ada perajuritnya yang terteter oleh lawan.

Kelebatnya pedang kesana serta kemari dibawah sinar matahari terlihat berkilauan bagaikan cahaya yang sedang menari karena begitu banyaknya senjata. Panah yang berhamburan tak terhitung jumlahnya dari kedua pasukan seperti hujan jamur yang tertancap dihamparan ladang. Tetapi sayang tak bisa diambil lalu di masak.

Kereta kuda yang dinaiki oleh pembesar pasukan dikedua belah pihak yang menerobos disela-sela kerapatan barisan perajurit. Memberikan tambahan semangat bbagi mereka yang ada dilini paling depan berusaha untuk mengalahkan lawannya tanpa berfikir keluarga di rumah. Dengan harapan ketika nanti memenangkan peperangan dapat naik jabatan.

Tanpa terasa matahari yang akan pulang keperaduannya menandakan malam telah tiba. Yang artinya perangpun harus dihentikan sampai esok pagi dan perajurit juga ada kesempatan untuk beristirahat. Karena hal tersebut sudah merupakan menjadi perjanjian dari dua kubu yang sedang berseteru. Walaupun belum diketahui atau belum ada yang kalah tapi ketika malam tiba perang harus berhenti.

Barata Yuda memang perang yang tidak diketahui kapan akan selesai ketika dua saudara sepupu itu sudah mengencangkan tali keyaqinannya dengan keputusan yang diambilnya. Karena Kurawa yang digambarkan sebagai kelompok serakah menurut catatan dalam sejarah maka Pandawa harus dilenyapkan agar tidak meminta dan mengganggu kekuasaan yang sudah berada dalam genggaman para Kurawa serta konconya. Namun sebaliknya Pandawa yang hanya meminta apa yang sudah menjadi haknya tentu harus menyingkirkan orang-orang tersebut dan sekaligus mehentikan keserakahan dari kurawa. Jadi keduanya berangkat di arena laga sesuai dengan apa yang diyaqinninya. Yang satu dilandasi hawa nafsu, lalu dan yang satu berlandaskan menegakan keadilan.

Demikianlah deretan tulisan yang sudah tertera dalam suratan dilembaran masalalu. Akhir ujung dari Maha Barata bertemunya dua saudara sepupu dimana pada waktu itu kakek mereka yaitu Sang Maha Resi Abiyasa masih hidup. Sehingga menyaksikan cucunya saling berhadapan dengan memegang senjata dengan kekuatan, yang di yaqininya.

Akhir perang besar itu dimenangkan oleh pihak Pandawa. Namun, seluru putra-putranya gugur tak ada yang tersisa. Seperti Raden Gatot Kaca, Abi Manyu, Irawan dan lain-lainnya.

Sedangkan dari pihak Kurawa, semuanya habis bersih. Bukan hanya pasukannya saja tetapi berikut plus Kurawanya dan Maha Patih yang terkenal yaitu Sengkuni. Selain itu harta kerajaan Hastinapura, juga telah habis ludes untuk pesta-pesta para Kurawa.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: