banner 728x250

Duta pandawa yang terakhir

  • Bagikan
banner 468x60

duta pandawa yang terakhir

duta terakhir

Setiap konflik pasti ada sebab dan musababnya kenapa bisa terjadi, lalu bagaimana jalan keluarnya tentu ada. Walau terkadang jalan keluar tersebut dicari-cari yang sulit. Agar apa yang telah digenggamnya tidak lepas. Karena untuk mengupayakan apa yang diinginkan sangat sulit sekali bahkan hampir menyerah didalam keputusasaan. Segala cara sudah dicoba. Semua jalan sudah ditempuh dan sudah dilewati agar segera sampai ditujuan. Akhirnya melakukan hal yang tidak baik.

banner 336x280

Hal tersebut memang tidak heran didalam kehidupan apabila anak manusia sudah digelapkan pandangannya oleh dunia. Yang ada dihadapannya hanya satu gemerlapnya butir-butir mutiara kesenangan. Yang berkilauan bila malam datang bisa menjadi terang tidak ada bedanya seperti siang hari. Sehingga membuat terlena dan tidak melihat lagi boleh dan tidak boleh batas-batas itu telah dilampoi. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Meskipun harus mengorbankan orang lain. Yang terpenting cita-citanya tercapai. Tetapi seharusnya sebagai manusia tidak boleh demikian perilakunya hanya mementingkan nafsu sesaat duniawi. Sehingga lupa bahwa nanti akan kembali kepada dirinya disuatu saat.

Seperti halnya dipagi yang sangat cerah itu dimana burung berkicau menyanyikan lagu tentang kepedihan hati, seorang kekasih ditinggal pergi. Memberikan gambaran bahwa didalam ruangan pendopo Hastinapura, ada seorang raja yang sedang murung raut wajahnya. Walau para pembesar negara sudah datang duduk menunggu perintah yang akan diberikan. Dan diluar Istana tepatnya di alun-alun perajurit telah berbaris sesuai dengan kelompoknya. Mereka siap siaga bagaikan mau maju tempur, beberapa menit lagi.

Tetapi raja tersebut belum memberikan perintahnya yang ditunggu-tunggu oleh prajuritnya. Suasana sunyi tidak ada satu suara yang terdengar walau hanya sepenarikan nafas. Angin berhembus hingga tidak mengeluarkan suara kalau-kalau nanti akan mendapatkan murka dari sang raja. Akhirnya seorang peria yang duduk paling depan membisikan sesuatu. Lalu terlihat raja yang tadi hanya diam saja, tiba-tiba menganggukan kepalanya dan wajahnya mendadak ceria. Ternyata peria yang duduk didepan tersebut adalah Maha Patih kerajaan Hastinapura dan raja yang menganggukan kepala tidak lain adalah Duryudana.

Sayup-sayup angin yang ada didalam keraton keluar lalu berbisik kepada lembaran sejarah dunia. Bahwa sejak tadi Duryudana diam saja dikarenakan akan datang utusan duta dari para Pandawa. Dia mencemaskan nasip dirinya dan saudaranya. Karena Pandawa telah selesai hukumannya 12 tahun di hutan dan 1 tahun hukuman penyamaran. Kalau hukuman penyamaran dalam setahun, lalu ketahuan Kurawa maka Pandawa harus kembali menjalani hukuman dari awal. Yakni 12 tahun di hutan dan 1 tahun lagi penyamaran. Hal tersebut yang membuat risau Duryudana makan tidak enak dan tidur juga tidak nyenyak. Seperti ditinggal oleh sang kekasih tercinta.

Utusan duta yang akan dikirim oleh pihak Pandawa adalah sebagai terakhir. Artinya duta yang ketiga sebagai penentu diberikan apa tidak. Dimana Duryudana yang akan memutuskan menerima apa tidak tuntutan dari para Pandawa. Karena Pandawa sudah cukup sabar selama ini selalu dizalimi oleh para Kurawa. Jadi momen tersebut akan sebagai landasan. Jika Duryudana menerima tuntutan maka perang Berata Yuda tidak akan terjadi. Karena selama ini saja kalau ada kerusuhan kepada Pandawa, selalu yang dikalahkan adalah Kurawa. Hal itu yang membuat fikiran Duryudana menjadi cemas. Tetapi sebaliknya kalau menerima tuntutan berarti kerajaan Hastina harus dibagi menjadi dua wilayah, yang sebagian milik Kurawa dan yang sisanya menjadi daerah kekuasaan Pandawa. Secara otomatis pemasukan pajak yang akan mengakibatkan kekayaan Duryudana berkurang. Yang akan mengakibatkan hidup mewah dan berpoya-poya tidak lagi seperti dulu.

Duta Pandawa, kali ini yang akan menyelesaikan keputusan terakhir adalah prabu Kresna. Yang sebelumnya Pandawa telah mengutus Dewi Kunti dan prabu Sucitra ayah dari SriKandi. Dua duta sebelumnya itu telah gagal tidak berhasil dalam melobi Duryudana. Sehingga duta yang ketiga ini diharapkan ada keputusan yang pasti menerima atau menolak permintaan dari para Pandawa. Seandainyapun menolak tentu pasukan yang dibawa oleh para sekutu telah siap untuk bertempur.

Maha Patih Hastina, yakni Sengkuni membisikan kepada Duryudana kalau pasukan yang dimiliki Kurawa jumlahnya lebih banyak. Dari pada yang dimiliki Pandawa. Jadi karena dari itu Sengkuni membesarkan hati Duryudana, kalau seandainya akan terjadi perang pihak Kurawa tidak mungkin kalah. Oleh dari itu sebaiknya permintaan dari para Pandawa jangan dikabulkan. Tentu mendengar hal itu Duryudana hatinya sangat gembira sekali, kalau terjadi perang Kurawa yang akan memenangkan perang. Hal itu yang membuat wajahnya berseri-seri. Jadi apabila nanti prabu Kresna datang sudah tahu apa yang akan dia lakukan.

Angin pagi masih bersenandung merdu membawakan bait-bait kesejukan bagi yang mendengarkan tidak ingin beranjak pergi. Tiba-tiba dari luar Istana, ada ramai-ramai suara perajurit kerajaan sedang menyambut tamu agung. Tidak lama kemudian seorang raja turun dari kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda gagah-gagah. Dimana warnanya berbeda-beda merah, hitam, kuning dan putih. Lalu kereta kencana dihiasi dengan gambar bunga-bunga.

Setelah itu Sang Maha Raja tersebut berjalan menuju kedalam Istana Hastina. Sesampainya didepan ruangan Istana, suara terdengar meriam susul-menyusul sebagai tanda kehormatan untuk menyambut raja agung. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar pada masa itu, menandakan bahwa kerajaannya adalah kerajaan yang besar dan kuat.

Setelah diadakan penyambutan lalu duduk bersama dan menikmati hidangan minuman dan makanan. Lalu tamu agung tersebut yang tiada lain adalah prabu Kresna. Duduk bersama Duryudana serta para pembesar kerajaan lainnya. Selanjutnya masuk persoalan inti. Pertama-tama Duryudana basa-basi bertanya kabar dan seterusnya dan prabu Kresnapun juga demikian. Lalu prabu Kresna menyampaikan surat dari Pandawa untuk diberikan kepada Duryudana langsung. Yang dimana isinya adalah meminta negara Ngamarta dan sebagian dari negara Hastinapura. Atau negara Ngamarta saja tidak papa. Apabila Duryudana merasa keberatan untuk melepaskan sebagian dari negara Hastina. Karena Pandawa sendiri menyadari bahwa Kurawa itu banyak jumlahnya.

Selama Duryudana membaca surat tersebut lalu datang Dewi Gendari ibu dari para Kurawa. Mengatakan negara Ngamarta lebih baik diberikan saja kepada para Pandawa. Tentu dengan alasan bahwa Dewi Gendari takut dengan prabu Kresna. Karena sebagai titisannya Dewa Wisnu. Selain itu Dewi Gendari, melihat didalam kereta kencananya prabu Kresna ada dewa yang menyertai perjalanannya menuju kerajaan Hastina. Sehingga Dewi Gendari khawatir kalau nanti putra-putranya kenapa-kenapa misalnya menolak apa yang menjadi permintaan para Pandawa. Oleh dari itu lebih baik diberikan saja. Akhirnya Duryudana bisa menerima alasan tersebut dan hitam diatas kertas ditandatangani bersama-sama didepan Dewi Gendari. Setelah itu Dewi Gendari pergi ke taman kaputren meninggalkan orang-orang yang masih berada di ruangan pertemuan itu.

Sehabis Dewi Gendari pergi meninggalkan ruangan mendadak tanpa diketahui sebabnya apa Duryudana merobek-robek surat yang ditandatangani tadi. Prabu Kresna menjadi kaget apa yang telah dilakukan oleh Duryudana itu. Sebelum prabu Kresna sempat bertanya. Duryudana mengatakan dengan ekspresi wajah yang bagaikan nyalahnya api dimalam hari dan suara yang diingin dan berat. Kalau dia tidak memperlukan lagi surat itu dan sampai kapanpun negara Ngamarta dan negara Hastina tidak akan pernah diberikan kepada Pandawa, walau hanya secuil tanah sekalipun. Prabu Kresna mendengar pernyataan yang seperti itu tidak kaget dan terkejud. Karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari sifat para Kurawa sejak lama.

Lalu tidak lama Sentiaki teman prabu Kresna datang ke hastina masuk kedalam ruanga tanpa dipanggil dan kedatangannya tergopoh-gopoh. Lalu wajahnya pucat pasi. Mengatakan bahwa dirinya dan prabu kresna telah dikepung perajurit banyak sekali, yang sudah lengkap dengan persenjataan siap tempur. Untuk mengakhiri riwayat mereka berdua. Prabu Kresna sontak langsung mengeluarkan kesaktiannya berubah menjadi raksasa besar sekali untuk menghadapi perajurit sebanyak itu. Karena kalau tidak berubah demikian akan bisa tertangkap dan tamat riwayatnya. Pandawa tidak akan segera mendapatkan kabar serta tidak bisa melakukan persiapan secepatnya. Penyerangan mendadak tidak mustahil akan dilakukan oleh Kurawa. Yang selalu menghalalkan segala cara terpenting menang.

Setelah melakukan perlawanan yang sengit dan berhasil membuat kocar-kacir para perajurit Hastina. Prabu Kresna kembali lagi menuju kereta kencananya. Tentu dengan niat akan pulang memberikan kabar kepada Pandawa. Tetapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat di ruangan pendopo, ada seorang raja tua duduk sendiri. Akhirnya prabu Kresna kembali ke pendopo, untuk menemui raja tua tersebut. Ternyata raja tua tersebut adalah prabu Salya atau dimasa mudanya yang dikenal dengan raden Narasoma. Mereka berdua akhirnya terlibat pembicaraan serius. Prabu Salya bertanya kepada prabu Kresna, perang Barata yuda jadi apa tidak. Tetapi lagi-lagi prabu Kresna yang cerdas itu mengetahui kemana arah pertanyaan. Lalu prabu Kresna, tidak menjawab karena belum ada keterangan yang pasti dari para Dewata. Prabu Salya tidak kalah akal karena ia juga tahu kalau prabu Kresna itu cerdas. Jadi pertanyaannya dirubah nanti perang Barata Yuda Kurawa atau Pandawa yang akan menang. Prabu Kresna singkat menjawab bahwa yang menang adalah Pandawa. Prabu Salyapun senyum-senyum akhirnya sudah diketahui kalau yang akan menang adalah Pandawa. Akhirnya prabu Salya berbicara kepada prabu Kresna menitipkan keponakannya yaitu Nakula dan Sadewa. Untuk dijaga baik-baik dimasa perang. prabu Kresna menyanggupi hal itu.

Lalu prabu Kresna minta diri pamit untuk melanjutkan perjalanan karena di Hastina sudah tidak ada lagi kepentingan yang harus diselesaikan. Dengan kejadian tadi artinya perang memang akan segera terjadi tinggal menunggu waktunya saja dan para Pandawa harus secepatnya untuk melakukan persiapan, untuk menyambut serangan dari Kurawa. Prabu Kresna mengingat-ngingat selama didalam pendopo keraton tadi dia tidak melihat adipati Karna lalu disaat bersamaan dari jauh dia melihat kereta kuda dan itu adalah kereta kudanya adipati Karna. Lalu diapun memerintahkan kepada Sentiaki yang sebagai juru kusirnya untuk mengarahkan kereta kencana menghampiri keretanya adipati Karna. Setelah mereka berdua bertemu berbincang-bicang tidak lama. adipati Karnapun mengutarakan apa yang menjadi isi hatinya kenapa tidak ada didalam pendopo keraton Hastina tadi. Ternyata adipati Karna kesal kepada Duryudana kenapa tidak dari awal saja menolak memberikan keterangan yang pasti tidak abu-abu kepada duta para Pandawa sejak utusan yang pertama. Sehingga tidak harus ada duta yang ketiga.

Setelah prabu Kresna bertemu dengan adipati Karna dia menjemput Dewi Kunti ke Kadipaten Panggombaan. Dimana itu adalah tempat tinggal adik mendiang prabu Pandu dan Dewi Kunti tinggal disitu selama Pandawa menjalankan hukuman. Dewi Kunti diajak bertemu para putranya yang lama sekali tidak ketemu dengannya. Karena sebentar lagi akan menjalani hajat perang besar yaitu bertanding melawan saudaranya sendiri. Yang seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi.

Ajaran lama mengatakan bahwa manusia boleh mempunyai segudang rencana tapi Sang Pencipta Kehidupan yang akan menentukan. Setiap manusia sudah ada digaris ceritanya masing-masing hanya saja tidak diketahui ceritanya tersebut akan bagaimana untuk alurnya dan akhirnya seperti apa. Karena tidak ada satu teknologi yang mutahir dapat mengetahui hal itu. Yang terpenting adalah jalani hidup dengan garis yang benar tentunya yang sudah ditetapkan oleh keyaqinannya sendiri-sendiri serta budaya sebagai pakaiannya. Agar lebih indah. Seperti halnya prabu Kresna yang diutus sebagai duta Pandawa yang ketiga. Tentu harapannya perang jangan sampai terjadi. Karena apabila perang terjadi korban akan berjatuhan dari kedua belah pihak dan kasihan bagi rakyat jelata yang tidak tahu-menahu persoalan. Tetapi harus dikut merasakan. Akan banyak wanita yang ingin menikah tapi kehilangan calonnya karena ikut didalam perang, lalu gugur. Kasihan para istri-istri akan banyak yang menjadi janda dan para anak kecil akan kehilangan ayahnya. Tetapi garis cerita berbicara lain.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: